Sabtu, 20 Mei 2017

Naskah Drama indo 10 orang tema fantasi

L U C I F E R

Pemain :
Afina T. Putri sebagai Keisha
Alma T. Rahayu sebagai Athala
Angga S. Dermawan  sebagai Martin/Gabriel
Dolio M.T. Kencana sebagai Ray
Dina Aulia sebagai Irene
Dwiarti R. Utami sebagai Bu Tyra
Hanif Mufidah sebagai Aaliyah
Linda Hauli sebagai Mba dukun/ Alisha
Rifqi D. Priyantama sebagai Salam/Mikael
Mega D. Hutasoit sebagai Abel

Narator di bawakan oleh Dwiarti R. Utami

















XI IPA 5
L U C I F E R

Di salah satu bagian di muka bumi, sekelompok anak muda mulai melenceng dari tugasnya sebagai penduduk bumi. Mereka mulai melakukan hal telarang dan semakin melakukannya semakin hari semakin jauh. Mereka mulai melupakan siapa pemilik atas segalanya di muka bumi ini.
Suatu hari, kelompok anak muda itu memainkan permainan terlarang dan menyebabkan kerusakan di bumi ini.

Bel sekolah berbunyi.
(Kringg...Kringg...Kringg...)
Ray         : “Hai, Aaliyah!”
Aaliyah : “Iya Ray, kenapa?”
Ray         : “Nih, pesenan lu. ( memberikan beberapa butir pil haram)”
Aaliyah : “Yoi! Makasih ya, nanti uangnya gua transfer aja lewat rekening.”
Ray         : “Oke, atur aja boss.”
Saat Ray selesai berbicara dengan Aaliyah, tiba-tiba Bu Tyra datang dari belakang mereka.
Bu Tyra : “Hei, sedang apa kalian?”
Aaliyah : “A-anu bu. ( panik)”
Bu Tyra : “Benda apa itu yang lagi kamu pegang?”
Ray         : “Enggak, itu Cuma bahan praktek buat nanti kok bu. Kami permisi dulu ya.”
Aaliyah : “Misi, bu.”
Bu Tyra : “Eh, kalian tunggu-tunggu! ( berteriak saat RAY dan Aaliyah bergegas pergi ke kelas)”
Bu Tyra masuk kelas.
Bu Tyra : Selamat pagi anak-anak.
Murid    : Selamat pagi, bu.
Bu Tyra : Coba buka buku paker halaman 152. Baca dan hafalkan materi itu 15 menit, setelah itu kita ulangan ya.
Murid    : Siap, bu.
(15 menit kemudian)
Bu Tyra : “Baik, tolong masukan buku kalian. Tidak ada benda lain di atas meja selain alat tulis.”
Abel       : “Eh, mana hp lu?”
Irene     : “Iya, bel. Tenang aja sih.”
Saat ulangan di mulai, irene mulai memulai rencana jahat mereka. Mengeluarkan HP untuk mencari jawaban lewat fasilitas internet, mereka berdua bekerja sama.
Bel pulang berbunyi
(Kringg...Kringg...Kringg...)
Bu Tyra : “Oke, kumpulkan semua ulangannya sekarang.”
Murid    : “Baik, bu.”
Bu Tyra : “(Membereskan lembar ulangan) Assalamualaikum.”
Murid    : “Waalaikum salam,bu”
Ray         : “Nanti malem main lah kuy.”
Aaliyah : “Main kemana, Ray”
Ray         : “Ada dah, pokoknya entar seru dah!”
Abel       : “Boleh juga tuh, gua juga lagi gak ada kerjaan ini di rumah.”
Ray         : “Keisha, Athala lu pada ikut kaga?”
Athala   : “Yaudah, ayo dah.”
Ray         : “Rene, ikut kaga lu?”
Irene     : “Ya kali, enggaklah kuy.”
Ray         : “Hahaha, okelah. Martin, Salam, Lu berdua pada ikut apa enggak?”
Martin  : “Kagak dah, gua cape berat hari ini. Mau tidur.”
Salam    : “Gua juga enggak deh,  mau ada pengajian hari ini.”
Ray         : “Oh, yaudah. Nanti yang ikut gua kumpul aja kita di bunderan tempat biasa. Janjian aja dulu.”
Setelah mereka merancang acara untuk nanti malam, mereka kembali pulang ke rumah.

Saat malam tiba.
Aaliyah : “Eh, Ray lu dimana? Semuanya udah pada ngumpul nih (berbicara lewat telepon)”
Ray         : “Sabar-sabar, ini bentar lagi juga nyampe kok.”
(Setelah beberapa menit)
Ray         : “Eh, guys. Sorry telat dikit.”
Keisha   : “Kebiasaan sih lu, gak di sekolah gak di sini terlambat mulu.”
Ray         : “Haha, sorry-sorry. Yaudah ayolah berangkat, keburu kemaleman.”
(Setelah satu jam)
Ray         : “Oke, guys. Kita udah sampai.”
Aaliyah : “Wuihhh. Caribbean club. Asyik banget dah!”
Irene     : “Bakal jadi malam yang panjang ini mah.”
Ray         : “Yaudah ayo masuk! Kita seneng-seneng.”
Keisha   : “Ah, gua mau pulang aja dah Ray.”
Ray         : “Lah, emangnya kenapa dah?”
Athala   : “Kita berdua gak bisa dateng ke tempat beginiaan, Ray.”
Abel       : “Lah justru itu lu, lu pada harus pada nyobain.”
Ray         : “Tau nih, udah ayolah masuk.”
Keisha   : “Yaudah deh.”
Athala   : “Kei, kita berdua anak rohis. Masa kita masuk ke tempat begituan sih?”
Keisha   : “Udah, sekali ini doang. Gapapa kok.”
Saat mereka masuk ke dalam Caribbean club, Raypun menyiapkan beberapa obat-obatan terlarang yang aman di bagikan untuk teman-temannya.
Ray         : “Guys, nih gua punya permen.”
Abel       : “Permen apaan ini dol?”
Ray         : “Permen penyegar badan. Udah cobain aja. Siapa tau lu bakal suka.”
Aaliyah : “Lu dapet duit dari mana bisa beli sebanyak itu?”
Ray         : “Abis bunuh orang gua tadi, terus dapet uang deh dari orang yang nyuruh tadi.”
Keisha   : “Halal gak nih, Ray?”
Ray         : “Halal kok. Udah ge, makan aja dulu.”
Athala   : “Ih, jangan fin. Gak baik takutnya.”
Keisha   : “Udah selaw aja, makan aja dulu.”
Setelah mereka berpesta pora di klub, mereka akhirnya kembali ke rumah mereka masing-masing dalam keadaan mabuk.
Saat Ray dan yang lain baru kembali dari pesta narkoba tersebut, Salam dan  Martin mengalami mimpi yang aneh.
Martin  : “Aduh, gua dimana ini? Aarggh!”
Salam    : “Lu? Kok lu bisa disini?”
Martin  : “Kita dimana ya?”
Salam    : “Kok kita bisa ada disini?”
Tiba-tiba sesosok mahluk bercahaya putuh datang ke hadapan mereka saat itu juga.
Martin  : “Siapa kau?”
Malaikat: “Kau pasti tau aku.”
Salam    : “Apa kau malaikat?”
Malaikat: “Ya, benar sekali.”
Martin  : “Apa mau mu?”
Malaikat: “Aku datang untuk memperingatkan kalian.”
Martin  : “Dari apa?”
Malaikat: “Kalian dan teman kalian sedang dalam bahaya.”
Salam    : “Maksudmu?”
Malaikat: “Biarkan aku masuk ke dalam tubuh kalian, dengan begitu aku dan kalian bisa menyelamatkan kalian semua.”
Malaikat itupun masuk ke dalam tubuh Martin dan Salam, setelah mereka dimasuki malaikat tersebut, merekapun langsung tersadar dari tidurnya.
Tepat pukul 9 pagi Ray mengajak teman-temannya bertemu di suatu tempat cukup tersembunyi.
Ray         : “Aaliyah, ajak yang lain main yuk.”
Aaliyah : “Main kemana, Ray?”
Ray         : “Udah ge ajak dulu, nanti juga tau kok.”
Aaliyah : “Oke, oke.”
Ray         : “Ohiya. Kita ketemuan di Grand wisata, di tempat biasa ya. Rumah yang biasa, jangan lupa ajak Martin sama Salam.”
Beberapa jam kemudian Aaliyah dan yang lain datang, sedangkan Ray sudah menunggu di dalam ruangan.
Ray         : “Hai, guys. Silahkan duduk.”
Aaliyah : “Kita mau ngapain sih disini?”
Alisha    : “Hai, kalian semua.”
Keisha   : “Siapa ya?”
Ray         : “Dia yang bakalan memimpin permainan ini.”
Alisha    : “Baiklah, silahkan duduk di tempatnya masing-masing. Kita akan memulai game ini.”
Keisha   : “Game apaan sih ini?”
Irene     : “Ini game pemanggilan arwah ya?”
Alisha    : “Tepat sekali, disini kalian bisa melihat masa depan kalian.”
Athala   : “Ini aman emangnya?”
Alisha    : “Tenang aja,baiklah ayo kita mulai. Kita baca bersama sama ya.”
“CHARLIE-CHARLIE ARE YOU HERE?
  CHARLIE-CHARLIE ARE YOU HERE?
  CHARLIE-CHARLIE ARE YOU HERE?”
RAY        :  “Kurang mainstream kalo begini mah.”
Alisha    : “Apa maksudmu?”
Ray         : “Kita ganti aja Charlie jadi nama Lucifer.”
Alisha    : “Apa yang kalian inginkan?”
Ray         : “Kenapa memangnya?”
Alisha    : “Lucifer tidak bisa kita panggil dalam game ini. Dia adalah mahluk paling kuat.”
Ray         : “Ikuti aja apa kata gua! (menyodorkan pistol)”
Abel       : “Eh, Ray! Apa-apaan sih? Lu ngapain?”
Ray         : “Diem aja udah, jangan banyak ngomong. Ikutin perintah gua!”
“Lucifer-Lucifer are you here?
Lucifer-Lucifer are you here?
Lucifer-Lucifer are you here?”

Tiba-tiba angin kencang datang beserta angin ribut yang menyebabkan api yang berada di lilin di tengah padam.
Ray         : “Dia datang!”
Martin  : “Uugghh (Martin mual)”
Keisha   : “Eh, Martin lu kenapa?”
Alisha    : “Ini berbahaya, kita harus menghentikannya!”
Ray         : “Jangan ada yang pergi atau kalian semua akan mati!”
Salam    : “Kita harus pergi, ayo cepat!!”
Ray         : “Hey, kalian jangan lari! Wellcome Lucifer, wellcome!!!”
Salam    : “Kita harus pergi menjauh dari sini, ayo cepat!! (Panik)”
Salam berhasil membuat teman-temannya selamat, mereka semua berhasil kabur dari tempat itu termasuk Alisha. Sampai saat ini Ray di kabarkan menghilang, semenjak kejadian itu tidak ada satupun yang melihat batang hidung Ray, ia menghilang secara misterius.

Bel istirahat berbunyi.
(Kringg...Kringg...Kringg...)
Aaliyah beranjak untuk pergi ke kantin namun Bu Tyra memanggilnya untuk menanyakan keadaan Ray.
Bu Tyra : “Aaliyah”
Aaliyah : “Iya, bu?”
Bu Tyra : “Ikut ibu dulu ke ruangan ya. Ada yang ingin ibu tanyakan.”
Aaliyah : “Oh, iya bu, iya.”
Bu Tyra : “(Mempersilahkan duduk) baik, ibu Cuma mau nanya aja. Kamu udah denger kabar tentang Ray belum? Soalnya dia udah banyak absen sejak seminggu yang lalu.”
Aaliyah : “Ah? R-ray? Oh, maaf bu saya gak tau. Saya gak tau apa-apa (panik dan pergi dari ruangan)”
Bu Tyra merasakan kecurigaan yang mendalam pada Aaliyah. Dia orang yang akhir-akhir ini dekat dengan Ray, melihat tingkah lakunya barusan membuat Bu Tyra berfikir bahwa hilangnya Ray ada kaitannya dengan Aaliyah.
Bel rumah berbunyi
(Tinggg...Tonggg...)
Bu Tyra : “Iya sebentar. (membuka pintu rumah)”
Lucifer  : “Halo bu guru.”
Bu Tyra terkena hipnotis oleh Lucifer, ia telah terjebak dalam guna-gunanya. Semenjak saat itu, Bu Tyra bertindak bukan seperti dirinya yang biasa. Ia melakukan banyak kejahatan seperti mencuri dan membunuh. Salam kini menjadi target utama dalam tindak kejahatan yang akan ia lakukan.

Kediaman Salam.
Salam    : “Astagfirullah. Kejahatan udah dimana-mana (menggelengkan kepala), dosa apa yaang udah di buat para manusia sampe bencana terjadi dimana-mana (mematikan televisi dan berniat untuk tidur)”
(Tingg...Dingg...Dongg...Plentang.)
Salam    : “Suara apa itu?”
Bu Tyra : “Hiattttttttt!!!”
(Pertarunan antara Bu Tyra dengan Salam)
Salam    : “Bu guru? Ibu ngapain disini? Kok bisa begini sih?”
Bu Tyra : “Selamatkan teman-temanmu, Salam. Buatlah dunia ini menjadi lebih baik, bawalah kedamaian kembali untuk dunia ini. (menghembuskan nafas terakhir)”
Salam    : “Apa maksudnya bu? Bu Tyra! Tanda apa ini? (memeriksa kening bu Tyra)”
Tiba-tiba suara aneh datang entah dari, suara itu bak panggilan yang terus menerus memanggil Salam, suara itu adalah tanda bahwa ia harus melakukan apa yang sudah seharusnya ia lakukan.
Salam    : “Ughh...Arrghh!! (Salam bertransformasi)”

Keesokan harinya.
(Kringg...Kringg...Kringg...)
Aaliyah : “Iya, halo?”
Salam    : “Tolong kumpulkan semua anak yang kemarin ikut bermain pemanggilan Lucifer, sekarang, di rumah gua!”
Aaliyah : “Lah, tapi— (Tutt...tutt...tutt...)”
Aaliyah merasa sedikit bingung dan merasakan kejanggalan, tapi mungkin Salam memiliki pemberitahuan yang penting sehingga memanggil semua teman-temannya yang ikut dalam permainan itu.

Kediaman Salam
(Tingg...Tongg...)
Aaliyah : “Permisi Salam.”
Salam    : “Eh, Aaliyah, masuk aja.”
Irene     : “Ada apaan sih? Kok sampe ngumpulin kita semua kesini?”
Salam    : “Kalian semua masih pada inget gak sih?”
Irene     : “Inget apaan?”
Salam    : “Waktu permainan pemaonggilan lucifer itu, yang seharusnya kita panggil Charlie malah jadi Lucifer.”
Keisha   : “Oh, iya inget-inget!!”
Athala   : “Terus masalahnya apa?”
Salam    : “Kita harus bermain permainan itu lagi!”
Aaliyah : “Eh, gila lo! Up deh, gua gak mau ikut ikutan lagi!”
Salam    : “Berarti kalian semua lebih memilih untuk mati rupanya?”
Martin  : “Maksudnya apa sih? Jelasin ke kita yang bener dong.”
Salam    : “Jadi gini....(menjelaskan semuanya kepada mereka).”
Abel       : “Oh, kalo gitu yaudah deh gua ikut.”
Keisha   : “Mau gak mau harus ikut ini mah.”
Aaliyah : “Yaudah gue ikut.”
Athala   : “Gue juga!”
Irene     : “Gue juga.”
Martin  : “Kita mau main dimana? Kita juga gak ada barang-barangnya.”
Salam    : “Kita harus nyari Mba dukun yang kemaren mimpin permainannya.”

Salam dan teman-teman pergi ke rumah Mba dukun.
Athala   : “Rumahnya sepi...”
Irene     : “Iya, sepi. Gimana dong jadinya?”
Keisha   : “Coba tanya ibu itu!”
Salam    : “Misi bu, pemilik rumah yang di sebelah sana kemana ya?”
Ibu         : “Oh, si mba udah pergi ke bandung.”
Martin  : “Oh, ibu tau alamatnya kan?”
Ibu         : “Yaudah sini saya tulisin (Menuliskan di kertas) nih alamatnya.”
Semua  : “Makasih ya bu...”

Mereka memutuskan untuk pergi ke tempat Mba dukun hari itu juga.
Salam    : “Kayanya ini rumahnya deh.”
Abel       : “Panggil aja coba.”
Keisha   : “Permisi mba..”
Alisha    : “Eh, K-kalian... kok bisa kesini? Mau ngapain kesini (Panik)”
Salam    : “Kita mau melanjutkan bermain, mba. Kita harus mengakhiri pemanggilan arwah itu.”
Alisha    : “Aduh, maaf-maaf. Saya sibuk, saya gak bisa. (pergi)”
Aaliyah  : “Tunggu, mba. Kita bakalan bayar 10x lipat dari yang kemaren deh!”
Alisha    : “Yaudah masuk deh.”
(Semuanya duduk melingkar di kursi)
Martin  : “Ayo, mba dukun. Langsung aja mulai.”
Alisha    : “Sebelum itu coba kalian minum ini, untuk mendukung jalannya permainan ini. (memberikan minuman satu-satu)”
Keisha   : “Kita semua udah minum, mba.”
Alisha    : “Apa yang kalian rasain?”
Semua  : “I feel...”
Martin  : “Langsung di mulai aja mba.”
Alisha    : “Oke-oke.”
“Lucifer-Lucifer are you here?
Lucifer-Lucifer are you here?
Lucifer-Lucifer are you here?”
Salam    : “Dia datang, dia datang!! Martin lindungi mereka!”
Martin  : “Baik!”
Lucifer  : “Hai, kalian!”
Salam    : “Bawa mereka pergi!”
Martin  : “Baik!”
Lucifer  : “Ada apa denganmu, Mikael?”
Salam    : “Kau sudah melampaui batasanmu.”
Lucifer  : “Apa yang sudah ku lampaui?”
Salam    : “Kau sudah menggunakan manusia menjadi tubuhmu dan dengan itu kau membuat kejatan dimana-mana.”
Lucifer  : “Kau salah! Ku perjelas sedikit, manusia yang aku gunakan itu adalah pendosa besar, jadi sekarang dia sudah menjadi budakku.”
Salam    : “Kau salah!”
Lucifer  : “Apa yang salah dengan semua itu? Sebentar lagi, akan ku buat agar aku bisa menggenggam dunia ini!”
Salam    : “Apa maksudmu?”
Lucifer  : “Seluruh manusia akan menjadi budakku, karena sebagian manusia di dunia ini sudah banyak yang berlari dari Tuhan. Mereka menjauh darinya. Mereka melakukan banyak kesalahan, mereka merampok, membunuh, berzina!”
Salam    : “Maka dari itu aku disini untuk mengembalikanmu ke neraka!”
Lucifer  : “Kau bercanda?”
Salam    : “Tidak, aku serius. Aku akan mengembalikanmu ke neraka.”
Lucifer  : “Kau tidak bisa melakukannya, Mikael. Tidakkah kau melihat kekuasaanku sudah banyak manusia yang terpengaruh oleh kejahatanku. Inilah rumahku.”
Salam    : “Tidak kau tidak layak disini, tempatmu bukan di sini. Tempatmu itu di neraka!”

Pertarungan Lucifer dengan Mikael.
(Gabriel datang)
Gabriel : “Kalian semua tunggu disini saja, aku akan membantu Salam untuk melawan Lucifer jahat itu!”
Irene     : “Tidak! Itu akan mengambil banyak resiko!
Alisha    : “Dia itu Lucifer, kau tidak bisa mengalahkannya semudah itu.”
Gabriel : “Mikael membutuhkanku, ini tidak akan lama. Jika aku membantunya, kami bisa mengalahkannya.”
Keisha   : “Pastikan bahwa kau benar-benar mengalahkannya, Gab.”
(Gabriel pergi menuju pertarungan antara Lucifer dan Mikael)
Gabriel : “Hentikan ini, Lucifer!”
Lucifer  : “Kau tidak berhak untuk melarangku, kau tidak bisa menyuruhku!”
Gabriel : “Kau hanya berencana untuk membunuh dirimu sendiri, kaui hampir kalah dengan Mikael.”
Pertarungan terjadi kembali antara Lucifer melawan Mikael dengan Gabriel, keduanya terus menerus menyerang, begitu juga dengan Lucifer yang tidak mau kalah walaupun kondisinya hampir kritis. Satu persatu teman-teman datang untuk melihat pertarungan sengit ini, akhir dari pertarungan dahsyat ini. Mikael menyerang Lucifer dan membuat ia terjatuh dengan bersimbah darah di dadanya.
Mikael  : “Kau kalah, Luc! Kau kalah dari kami! Kejahatanmu tidak bisa mengalahkan kedamaian dunia ini!”
Lucifer  : “Kalian tidak bisa pergi dariku, tapi aku bisa datang kapan saja ke bumi ini. Aku memang tidak memiliki kekuatan lagi, tapi atasanku memberikanku hak untuk menggoda kalian lagi. Aku memiliki tiga cara untuk menjadikan kalian budakku!”
Aaliyah : “Kami tidak akan melakukan apa perintahmu!”
Irene     : “Bu Tyra mati karena kau! Kau seorang pembunuh!”
Lucifer  : “Aku punya tiga cara untuk menyesatkan kalian! Yang pertama, aku akan membuat kalian semua masyarakat bumi agar jauh dari tuhan (Suara parau)”
Keisha   : “Kau ini bodoh atau apa? Ada banyak orang alim di dunia ini!”
Lucifer  : “Kalau begitu aku akan membuat kalian lupa akan Tuhan kalian.”
Athala   : “Kami tidak akan melakukan itu, kami pasti terus menerus mengingat siapa pencipta kami!”
Lucifer  : “Ji-jika c-cara itu m-massihh t-tidak bissaa, a-aku akan membuat k-kalian t-tergila gila akan dunia! Itu sifat alami kalian, itu jati diri kalian yang sebenernya! Kalian semua pendosa besar! Kalian akan mencuri, membunuh, berjudi b-bahhkahnn k-kalian berzina.”
Salam    : “Kami akan membantu melindungi manusia agar tidak tergoda olehmu!”
Lucifer  : “(tersenyum kecil) J-jika dengan it-itu masih tidak bisa. Aku akan menyerang hatinya, aku akan merasuki jiwanya aku akan menyerang orang yang ia sayangi agar mereka tunduk padaku!”

Lucifer berhasil di kalahkan, Mikael mengambil jiwanya dan mengembalikannya kembali ke nereka tempat dimana ia seharusnya berada. Begitu juga dengan Salam dan Martin, mereka keluar dari tubuh manusia agar bisa kembali ke tempatnya berada untuk tetap menjaga dan mengawasi kedamaian dunia dari atas.
Sebelum Mikael benar-benar kembali ke dunia atasnya, dia berpesan pada mereka, bahwa jangan pernah melupakan siapa pencipta kalian dan ingatlah akan akhir zaman yang akan datang. Saat itulah penghakiman akan dosa-dosa dimulai, maka dari itu jagalah iman kalian agar kalian bisa selamat dari dunia semata ini dan merasakan indahnya kehidupan abadi nanti.


FIN.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar