Sabtu, 09 April 2016

Contoh naskah drama adat daerah di perankan enam orang

Drama adat, naskah drama adat daerah drama cerita rakyat, drama malin kudang, drama siti nurbaya.

Pemain :
Siti Nurbaya
Malin Kundang
Datuk Maringgih
Ibu Malin Kundang
Baginda Sulaiman
Anak Siti-Malin.






Malin     : “Mati sajalah aku ini. Hidup susah bertahun-tahun,apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan uang yang banyak?” (Bersenandung di sore hari.) Malin Kundang berfikir, “Apalah aku harus Merantau? Bagaimano dengan Bundo yang sendirian jika ku tinggal pergi berkerja?”
Hari menggelap,Malin masuk ke dalam rumahnya…
Malin     : “BUNDOOO! BUNDOO! DIMANA ENGKAU?” (Berteriak)
Bundo    : “Bundo disini,Nak. Ada apo berteriak-teriak saparti itu dalam rumah?”
Malin      : “Bundo,aku ingin pergi ke Jakarta untuk merantau. Izinkanlah aku bundo,untuk mencari istri dan bekerja disana.” (Belutut di hadapan Bundo)
Bundo    : “Malin,apa kau yakin ingin Merantau,Nak? Bundo akan sendirian disini. Namun kau sekarang sudah besar,kau boleh mencari jalan hidupmu sendiri,Nak.”
Malin     : “Terima kasih,Bundo! Aku akan mengirimkanmu surat dan kembali kesini dengan uang yang banyak serta gadis yang cantik nanti…” (Memeluk Bundo)
Pagi hari.
Malin membawa pakaian yang sudah di karungi.
Malin     : “Bundooo,jangan lupakan aku bundo. Ingatlah terus anakmu ini…”(Malin berteriak sambil menangis)
Bundo   : “Malin,ingatlah pesan-pesan Bundo! Jangan sampai kau kembali dengan kekayaan namun kau menjadi anak yang durhaka!”
Malin     : “BUNDOOO! SAMPAI JUMPA ,BUNDOOO!” (Berteriak saat perahu berlayar pergi.)
Di Pasar.
Baginda : “Dibeli,dibeli,dibeli. Beli dua gratis satu,beli satu gratis dua,beli dua dapat tiga!” (Pedagang menjajakan barang dagangannya.)
Bundo   : “Beli kain ini berapa satunya?” (Raut muka suram)
Baginda : “Matahari masih bersinar terang dan masih pagi sekali kenapa wajah Bundo terlihat seperti orang yang baru tertimpa masalah?”
Bundo   : “Bukan bergitu,Baginda. Anakku Malin pergi ke Jakarta untuk Merantau. Bagaimana aku tidak bersedih?”
Baginda : “Jadi seperti itu,Bundo. Agar kau tidak bersedih,kau akan kuberikan diskon besar-besaran. Jika kau membeli dua kain ini akan kuberikan tiga untukmu…”
 Bundo : “Kau ini memang begitu! Harganya 40 ribu bukan? Karena kebaikanmu,akan kuberi kau uang 20 ribu dua lembar. Dan ambil saja kembaliannya agar kau semakin kaya,Baginda Sulaiman.”
Baginda : “Ah,kau ini membuatku malu saja. Aku tak perlu menjadi lebih kaya lagi. Mempunyai rumah,sawah dan penghasilan dari pedangang di pasar milikku ini sudah cukup bagiku.”
Bundo   : “Kalau begitu terima kasih,Baginda.” (Pergi untuk pulang)
Datuk Maringgihpun datang…
Maringgih : “Baginda-Baginda!” (Berteriak memanggil)
Baginda  : “Aku disini,Datuk Maringgih! Ada apa berteriak seperti itu?”
Maringgih : “Ini gawat,Baginda. Aku mendengar bahwa beberapa Saudagar dan Pedangang terjebak di tengah laut. Aku harus segera pergi dengan perahumu untuk membantu mereka.”
Baginda   : “Benarkah? Tapi Perahuku sangat besar,Maringgih. Aku membuatnya dengan mengumpulkan uang selama 10 tahun. Memangnya apa yang membuat mereka terjebak?”
Maringgih : “hm…hm…Kudengar,ada dua gurita raksaksa di laut. Jadi para Saudagar berusaha melarikan diri,namun mereka terjebak. Gurita itu sangat besar,sebesar rumahmu! Dan bisa menghancurkan apa saja di sekitarnya,bagaimana jika  gurita itu sampai ke pasar milikmu ini? Semua dagangan,anak-anak bisa hilang karenanya.” (Berbohong)
Baginda    : “Bisa gawat kalau begini! Maringgih,pergilah bersama teman-temanmu untuk membunuh Gurita raksaksa itu! Aku akan memberikanmu uang yang sangat banyak untuk membujuk teman-temanmu agar membunuhnya! Kau bisa langsung pergi dan aku akan segera memberitahukan berita ini pada Istri dan anakku!” (Pergi berlarian ke rumah)
Maringgih : “HaHaHa!  Mudah sekali kau di tipu,Baginda! Aku akan mengambil uang dan menjual kapalmu kepada orang lain…HaHaHa!” (Tertawa jahat)
Di Hutan.
Maringgih datang menemui Siti Nurbaya.
Maringgih : “Matahari sudah mulai terbenam,kenapa kau masih disini Siti Nurbaya?” (Mencoba menarik perhatian)
Nurbaya : “Biarkan saja,Datuk Maringgih. Aku juga akan pergi sebentar lagi!” (Merasa tidak nyaman)
Maringgih : (Mencoba memegang tangan Nurbaya)
Nurbaya : “Apa-apaan kau ini!  Mencoba berdekatan denganku,kau ini hanya teman dari Ayahku saja,Maringgih!” (Marah)
Maringgih : “Kenapa kau seperti itu,Siti Nurbaya? Aku mencintaimu,bahkan aku rela melakukan apa saja agar kau mau menikah denganku!”
Nurbaya : “Melakukan apa saja?” (Berfikir) “Kau harus menjadi Saudagar yang sangat Kaya Raya,kau juga harus membuktikan padaku kalau kau merupakan Pria yang pemberani!”
Maringgih : “Kaya dan Pemberani? HaHaHa! Aku akan membuktikan padamu,Siti Nurbaya!” (Nurbaya pergi karena ketakutan)
Dua hari kemudian…
Maringgih menyuruh anak buahnya untuk menghancurkan pasar milik Baginda Sulaiman di malam hari. Semua Dagangan milik Pedangang hancur dan tidak bisa di gunakan lagi seperti terkena bencana. Anak buah Maringgih mulai mengadu domba,ia menyuruh para Pedang untuk menuntut ganti rugi kepada Baginda,fitnah tersebar. Pasar milik Baginda ditutup untuk sementara,Baginda Sulaiman harus membuka sisa kantung uangnya kepada para pedangang untuk mengganti rugi.
Hanya harta,rumah serta anaknya yang dimilikinya. Hutang belum sepenuhnya terbayar,Mau tak mau Baginda Sulaiman harus menjual pasar miliknya.
Datuk Maringgih kembali dengan pakaian seadanya,tubuhnya juga kotor dan basah.
Maringgih : “Baginda! Baginda! Aku dan Awakku berhasil membunuh Gurita raksaksa itu. Namun aku tidak bisa menyelamatkan perahumu,dan sejumlah uang yang kau berikan telah aku berikan kepada Saudagar untuk meminta maaf. Maafkan aku,Baginda.”
Baginda : “Tidak apa-apa,sekarang aku sudah bukan Baginda lagi,Maringgih. Aku telah kehilangan seluruh pasar dan kekayaanku…”
Maringgih : “Benarkah? Bagaimana bisa?”
Pedagang : “BAGINDAA SULAIMAN! KAU HARUS MENGGANTI KERUGIANKU SEBESAR DUA JUTA,ATAU AKU AKAN MENYURUH PENDUDUK UNTUK MEMBONGKAR RUMAHMU!”
Baginda : “Apa yang harus aku lakukan? Maringgih,bolehkah aku meminjam uangmu? Aku akan menggantinya nanti…”
Maringgih : (Tersenyum) “Tentu saja,Baginda kau bisa membayarkannya kapan saja!”
Baginda : (Mengambil uang) “Ambillah uang ini,Pedagangku.”
Pedangan itu pergi setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Baginda sangat senang karena Maringgih telah menyelamatkan hidupnya. Hari-hari berlalu,Baginda selalu meminjam uang pada Maringgih untuk membeli makan untuk dirinya dan Siti Nurbaya. Satu bulan kemudian.
Maringgih : “Baginda,maafkan aku! Ini sudah satu bulan lebih,kau belum sedikitpun membayar hutangmu. Bundo sakit dirumah,aku butuh uangmu untuk membayar obatnya.”
Baginda : (Berlutut) “Tapi Maringgih,aku belum memiliki uang untuk membayar hutangmu… aku akan melakukan apa saja untukmu.”
Maringgih : “Kalau begitu serahkan Siti Nurbaya padaku! Aku akan menikahinya dan membiayai kehidupannya! Lagi pula hutangmu akan kuhapuskan,karena kau sudah menjadi Ayahku saat aku menikahinya nanti.” (Terdengar oleh Nurbaya)
Nurbaya : “TIDAKKKK! Jangan lakukan itu! Aku tidak ingin menikahi orang sepertinya,Ayah!”
Baginda : “Maafkan aku,tapi tidak ada cara lain selain ini,Anakku…”
Siti Nurbaya menangis. Besok adalah hari pernikahannya dengan orang yang tidak di inginkannya. Ia memikirkan cara lain.  Ia mengambil sarung,baju-bajunya ia masukan dan ia ikat. Nurbaya berniat untuk melarikan diri dengan kapal. Tak lupa ia meninggalkan sepucuk surat untuk Ayahnya.
Keesokan harinya…
Pesta megah telah di gerai,kediaman Siti Nurbaya menjadi sangat ramai. Baginda pergi dan mengetuk pintu kamar Nurbaya, betapa kagetnya ia setelah membaca surat bahwa Nurbaya melarikan diri karena tidak ingin menikah.
Baginda Sulaiman harus menahan malu yang ia rasakan. Maringgih menjadi geram,ia mengutus anak buahnya untuk mencari keberadaan Siti Nurbaya.
Jakarta.
Malin Kundang sudah sukses menjadi Saudagar di Ibu kota,ia bertemu dengan Nurbaya di pelabuhan.
Malin      : “Gadis sepertimu bagaimana bisa berada disini dengan pakaian kotor seperti itu?”
Nurbaya : “Maafkan aku Saudagar,aku melarikan diri dari kampong halamanku di Minang.”
Malin     : “Minangkabau? Aku juga berasal dari sana. Aku merantau kesini,dan satu bulan lagi aku harus pergi kembali kesana untuk bertemu dengan Bundo.”
Nurbaya : “Kau sangat beruntung sekali. Namaku Siti Nurbaya.”
Malin       : “Siti Nurbaya,kau bisa tinggal di rumahku. Ada kamar kosong disana yang bisa kau tempati.” (Membawanya pergi)
Sudah sebulan Malin mengenal Nurbaya,keduanya merasakan perasaan yang sama. Malin melamar Nurbaya untuk menikah dengannya,Malin adalah penyelamat bagi Nurbaya. Keduanya setuju untuk menikah di Minangkabau daerah asalnya.
Datuk Maringgih memperbudak para pedang,Ia bersifat kasar dan sangat di takuti. Semenjak kepergihan Nurbaya,ia sekarang menjadi orang yang sangat sibuk.
Pesta Pernikahan di gelar,Karena kesibukannya Datuk Maringgih belum tahu akan berita ini.
Nurbaya dan Baginda Sulaiman pergi ke kediaman Malin untuk melakukan Maresek.
Maresek merupakan penjajakan pertama sebagai permulaan dari rangkaian tata-cara pelaksanaan pernikahan. Sesuai dengan sistem kekerabatan di Minangkabau yaitu matrilineal, pihak keluarga wanita mendatangi pihak keluarga pria. Lazimnya pihak keluarga yang datang membawa buah tangan berupa kue atau buah-buahan.
Nurbaya : “Bundo,Aku mencintai anakmu Malin. Kami sudah saling mengenal sejak satu bulan yang lalu. Aku meminta izinmu untuk menikahi anakmu.” (Bersujud)
Bundo : “Jika kalian saling mencintai,Bundo tentu saja mengizinkan kalian untuk menikah.”
(BABAKO-BABAKI)
Pihak keluarga dari ayah calon mempelai wanita (disebut bako) ingin memperlihatkan kasih sayangnya dengan ikut memikul biaya sesuai kemampuan. Acara ini biasanya berlangsung beberapa hari sebelum acara akad nikah. Mereka datang membawa berbagai macam antaran.
Baginda : “Saya juga akan ikut membiayai pernikahan mereka,jadi sebelumnya. Hanya ini yang bisa saya antarkan…” (Memberika beeberapa macam antaran)
Bainai berarti melekatkan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke kuku-kuku calon pengantin wanita. Lazimnya berlangsung malam hari sebelum akad nikah. Tradisi ini sebagai ungkapan kasih sayang dan doa restu dari para sesepuh keluarga mempelai wanita.
Bundo melalukan Bainai. Karena Nurbaya sudah tidak memiliki ibu,akhirnya ia yang harus membuat Banai pada punggung dan kuku tangan Nurbaya.
MANJAPUIK MARAPULAI
Pekan-Budaya-Sumatera-Barat-1
Ini adalah acara adat yang paling penting dalam seluruh rangkaian acara perkawinan menurut adat Minangkabau. Calon pengantin pria dijemput dan dibawa ke rumah calon pengantin wanita untuk melangsungkan akad nikah. Membawa beberapa makanan dan di taruh di atas kepala warga sekitar.
PENYAMBUTAN DI RUMAH ANAK DARO

Tradisi menyambut kedatangan calon mempelai pria di rumah calon mempelai wanita lazimnya merupakan momen meriah dan besar. Diiringi bunyi musik tradisional khas Minang yakni talempong dan gandang tabuk, serta barisan Gelombang Adat timbal balik yang terdiri dari pemuda-pemuda berpakaian silat, serta disambut para dara berpakaian adat yang menyuguhkan sirih.
Mamulangkan Tando
Setelah resmi sebagai suami istri, maka tanda yang diberikan sebagai ikatan janji sewaktu lamaran dikembalikan oleh kedua belah pihak.

  Malewakan Gala Marapulai
Mengumumkan gelar untuk pengantin pria. Gelar ini sebagai tanda kehormatan dan kedewasaan yang disandang mempelai pria. Lazimnya diumumkan langsung oleh ninik mamak kaumnya.

  Balantuang Kaniang atau Mengadu Kening
Pasangan mempelai dipimpin oleh para sesepuh wanita menyentuhkan kening mereka satu sama lain. Kedua mempelai didudukkan saling berhadapan dan wajah keduanya dipisahkan dengan sebuah kipas, lalu kipas diturunkan secara perlahan. Setelah itu kening pengantin akan saling bersentuhan.

  Mangaruak Nasi Kuniang
Prosesi ini mengisyaratkan hubungan kerjasama antara suami isri harus selalu saling menahan diri dan melengkapi. Ritual diawali dengan kedua pengantin berebut mengambil daging ayam yang tersembunyi di dalam nasi kuning.

  Bamain Coki
Coki adalah permaian tradisional Ranah Minang. Yakni semacam permainan catur yang dilakukan oleh dua orang, papan permainan menyerupai halma. Permainan ini bermakna agar kedua mempelai bisa saling meluluhkan kekakuan dan egonya masing-masing agar tercipta kemesraan.
Seusai Pesta berakhir keluarga itu saling hidup berbahagia. Dengan sejumlah uang milik Malin,Baginda Sulaiman memulai usahanya dari awal kembali.
Satu tahun kemudian.
Nurbaya baru baru ini mengetahui bahwa ia sedang mengandung anak Malin. Betapa senangnya keluarga itu saat mengetahui kabar gembira ini. Proses adat kembali di mulai.
Upacara Karek Pusek (Kerat pusat) :
Sebetulnya tidak memerlukan upacara yang khusus pada saat dilakukan pemotongan tali pusat ini, karena merupakan upaya dari kalangan medis dalam memisahkan pusar bayi dengan placenta ibunya. Belum diketemukan upacara khusus untuk melakukan hal ini.

3. Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah) :
Sering upacara ini dilakukan dengan tradisi tertentu diantara para ipar – besan dan induk bako dari pihak si Bayi. Induk Bako – si Bayi akan memberikan sesuatu kepada sang bayi sebagai wujud kasih sayangnya atas kedatangan bayi itu dalam keluarga muda.
Umumnya Induk bako dan kerabatnya akan memberikan perhiasan berupa cincin bagi bayi laki-laki atau gelang bagi bayi perempuan serta pemberian lainnya.

4. Upacara Sunat Rasul :
Apabila seorang anak laki-laki telah cukup umur dan berkat dorongan kedua orang tuanya, makaseorang anak akan menjalani khitanan yang di Ranah Minang disebut “ Sunat Rasul.
Sunah rasul mengandung pengharapan dari kedua orang tuanya agar anak laki-lakinya itu menjadi anak yang dicita-citakan serta berbakti kepada kedua orang tua.
1. Manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini.
2. Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya dengan ilmu pengetahuan.
3. Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat pengajaran adat dan agama.
4. Mengaji adat istiadat. Didalam pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Adat.
5. Baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang sudah kenamaan.
6. Mangaji halal jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama.
7. Mengaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral.

6. Tamat Kaji (khatam Qur’an) :
Biasanya seseorang yang telah menamatkan kaji (khatam Qur’an), maka terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap kemampuan membaca itu dihadapan majelis Surau. Seorang akan mendengar kemampuan tajwit dan makhraj untuk meyakini bahwa seorang anak yang telah menamatkan AlQur’an itu, telah lulus didalam pengkhataman Al Qur’an nya. Dan di gelar syukuran.
Akhirnya Datuk Maringgih mengetahui hal ini. Betapa geramnya ia saat mengatahui anak kecil yang berada di depannya adalah anak Siti Nurbaya. Hal licik kembali datang di pikirannya,ia tak mau melihat kebahagiaan Siti Nurbaya bersama orang lain.
Maringgih membawakan beberapa makanan kepada keluarga kecil Malin. Kebetulan sekali hanya ada Malin,Nurbaya dan anaknya.
Maringgih: “Nurbaya,aku kesini untuk meminta maaf kepadamu atas kesalahanku dimasa lalu… aku membawakan makanan ini untuk kalian.”
Nurbaya : “Kau tidak perlu seperti itu,Datuk Maringgih… aku telah memaafkanmu.”
Maringgih : “Kalian tidak ingin memakan makanan dariku?”
Nurbaya : “Oh,ya! Aku lupa tentang hal ini…”
Maringgih : “Malin,izinkan aku menyuapi anakmu. Roti ini bagus untuknya.” (Malin memberikan anaknya,Maringgih menggendongnya.)
Maringgih menyuapi anak Malin,sedangkan kedua orang tuanya mencicipi makanan yang lain.
Nurbaya : “Aku merasa sangat pusing…”
Malin : “Aku akan mengambil air minum,perutku terasa mual…”
Maringgih menaruh anak Malin ke pangkuan Ibunya,ia berdiri.
Maringgih : “HaHaHa! Rasakan kalian semua! Makanan yang kalian makan sudah kuberi racun. Dengar ya,Nurbaya! Karena aku tidak bisa mendapatkanmu,malinpun tidak bisa mendapatkanmu juga. Aku tidak ingin melihat kebahagiaan kalian semua. Selamat tinggal!” (Maringgih pergi)
Betapa terkejutnya Bundo dan Baginda Sulaiman melihat ketiga orang itu terkapar lemas tak beradaya. Mereka sekarang telah tiada,Bundo dan Sulaiman menangisi kepergihannya.
Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah kematian adalah sbb:
1. Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk)
2. Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako)
3. Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat)
4. Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan)
5. Doa talakin panjang di kuburan
6. Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, seratus hari dan malahan yang keseribu hari.

Bundo dan Baginda Sulaiman menjalani hidup dengan kesedihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar