Minggu, 26 Oktober 2014

FF Training [EXO SERIES]- Part 3

PART 3
“Jeongsuk-ssi. Ah,Jeosonghamnida. Lee Taepyeonim,kenapa harus aku yang membuat lagu untuk mereka?”
“Richan,aku mempercepat debutmu. Kau tidak ingin ? walaupun itu hanya acara tahunan SWE,salah satu dari Kai atau Eunhyuk akan menyanyikan lagumu,dan dengan begitu kau sudah debut menjadi penulis lagu.” Lee Taepyeonim memperjelas.
“Taepyeonim,kenapa harus Kai? Kau tahukan masalahku dengannya.”
“Dengan cara ini kau bisa dekat dengannya. Richan,ini masih lama. Kau hanya harus fokus pada pembuatan lagumu,okay?” Richan akhirnya menerima dengan berat hati. Di lain pihak ia juga senang,bagaimana tidak? 1 bulan lagi ia akan debut!
“Hmm,aku akan berusaha dengan maksimal Taepyeonim.”
“Hm,pergilah. Trainee lain akan salah sangka jika kau terlalu lama berada disini. Kai dan Eunhyuk,aku akan memberitahukan padanya secara pribadi masalah ini.”
Richan berdiri lalu ia membungkukan badannya,ia pergi dari ruang ini.
*
Semua Trainee sore kali ini,karena sekarang adalah hari sabtu. Dan besok juga adalah hari libur,mereka bisa melakukan apa saja untuk Weekend.
Richan mengusapkan obat jel pada bagian perutnya yang sedikit melepuh. Ia mengambil buka catatan dan pulpen dari mejanya,Richan keluar dari kamar dan pergi ke atap asramanya. Ya,siapa tahu ia bisa mendapatkan inspirasi dengan menghirup udara segar.
Ia duduk di bangku dan melihat hamparan gedung pencakar langit,ia menghirup udara segar sebanyak yang ia bisa. Menenangkan dirinya.
Richan menaruh buku dan pulpen di sampangnya, ia memasangkan earphone di telinganya dan mendengarkan beberapa lagu miliknya yang sempat ia buat sebelum ia menjadi Trainee. Lagu yang berjudul The story of our live karangan Richan dan kedua orangtuanya saat ia berumur 15 tahun. Ia sangat menyukai lagu itu!
Eunhyuk datang entah dari mana asalnya,Ia melihat Richan yang sedang hanyut dalam lagu yang ia dengarkan. Eunhyuk duduk disampingnya.
“Lagu apa yang kau dengarkan?” Pertanyaan itu tentu saja mengagetkan Richan dari dunianya.
“Hm,lagu yang bisa di dengarkan.” Jawab Richan dengan dingin.
“YA! Aku bertanya baik-baik! Kau tidak tahu siapa aku,Kyuhyun dan Kai. Tapi bagaimana bisa kau mendengarkan orang lain? Kau pasti hanya berpura-purakan?” Tuduh Eunhyuk dengan sengaja.
“Nyatanya memang aku tidak mengenal kalian! Ini lagu ciptaan aku dan kedua orangtuaku,kau puas?”
“Ah,Mianh! Aku tidak tahu. Kau belum bersiap-siap? Kau harus menulis lagu untukku dan manusia itu. Bagaimana bisa kau masih santai saja disini? Aku tidak mau menyanyikan lagu dadakan,kau harus ingat itu!”
“Manusia itu? Wae? Kau juga punya masalah dengannya?” Tanya Richan penasaran.
“Oh,aku teman sekolah dasarnya. Dan kami selalu bertengkar.” Jawab Eunhyuk. Ia mengambil handphone milik Richan,mengetik sesuatu dan menaruhnya di dekat telinga kanannya.
“Masalah apa? Bagaimana bisa masalah bertahun-tahun lalu bisa terbawa sampai saat ini? Apa kalian saling balas dendam? Ceritakan padaku!”
“Kau tidak perlu tahu,aku sekarang mendapatkan nomor telefonmu!” Eunhyuk menunjukan layar handphone kepada Richan.
“YA! Kau semakin membuatku penasaran!” Richan meledak dan berdiri dengan tegak di hadapan Eunhyuk, “Tak masalah jika kau tidak mau membertahuku,aku pergi.” Richan mengambil Handphone serta buku dan pulpennya dan pergi dengan sedikit amarah.
“YA! Kenapa kau pergi?” Eunhyuk sedikit berteriak.
“Sebentar lagi malam! Aku tidak mau ada di luar…” Ucapnya kemudian pergi.
*
Richan terus berputar kebingungan,ia perlu tahu banyak hal tentang Kai. Ia sudah mencari banyak fakta tentang Kai,tapi tidak semuanya benar bukan?
Richan mengambil beberapa barang dan membuka pintu kamar,ia melihat kekanan dan kekiri,sepi. Semua Trainee pasti sedang berjalan-jalan karena ini malam minggu,semoga saja Kai tidak.
Richan mengetuk pintu,ia berharap semoga Kai akan membukakan pintu untuknya. Seseoraang berjalan,Kai membuka pintu,keduanya saling bertatapan. Kai langsung menutup pintu namun dengan cepat Richan menahan dengan kakinya sehingga pintu tidak bisa tertutup sempurna.
Kai berusaha menutup pintunya lagi,Richan berteriak “AWWH!” Kai terkejut dan melonggarkan pintunya,saat itu tidak di sia-siakan. Richan segera masuk dengan paksa.
“YA! Kau melanggar aturan norma! Tidak boleh berada dalam kamar Trainee lain lawan jenis,dan kau juga mengganggu kehidupan Trainee lain!” Kai angkat bicara.
“YA! Ini demi lagumu,kau harus menolongku beberapa hal!” Richan meminta.
“Dan kau juga meminta bantuan Senior untuk tugasmu sendiri!” Kai marah,ia benar-benar tidak mood untuk saat ini. Ia mengeluarkan handphone dari saku celananya,”Aku akan mengadukan hal ini pada Taepyeonim!” Kai berusaha untuk mengancam.
Richan menaruh peralatannya di atas meja dan duduk di lantai,ia mengeluarkan handphone. “Tidak usah repot-repot,aku akan menelfonya…” Richan melakukan sebuah panggilan,”Yeoboseyo,Taepyeonim.” Ia menggunakan loadspeaker.
“Ne,Richan ada apa?”
“Aku akan menulis lagu yang di tugaskan olehmu,dan sepertinya aku akan melakukan beberapa pelanggaran sebagai Trainee seperti masuk ke kamar Trainee lain,mengganggu,dan sedikit meminta bantuan terhadap Kai. Apa untuk saat ini aku diizinkan?”
“Hm,tentu saja! Kau harus mendalami perasaan dan lagu apa yang mereka inginkan.”
“Geurom,Gamsahamnida,Taepyeonim.” Richan menutup sambungan telefonnya. “Kau sudah mendengar sendirikan?” Richan memperjelas.
“YA! Richan-ah,tapi kau—“
Richan berdiri dan segera meminta maaf,”Sebelumnya aku ingin meminta maaf soal kejadian sebelumnya. Dan sebagai penulis lagu senior setidaknya kau harus memberiku beberapa arahan.”
“Dengar,aku akan memperlakukanmu sebagai Seniormu. Tapi permintaan maafmu,tidak kuterima!” Kai duduk di lantai depan Richan.
Richan tersenyum kemudian duduk kembali,”Hm,sebagai awalan. Aku akan melakukan beberapa wawancara. Lagu apa yang ingin kau nyanyikan?”
“Lagu yang bisa membuatku menang melawan Eunhyuk!” Kai menjawab dengan tegas.
“Aish,kau memiliki masalah dengannya? Dia temanmu,kau harus memaafkannya!” Richan memasehati.
“Kami selalu membuat masalah dan aku tidak pernah menganggapnya TEMAN!” Richan tertegun,sekasar itu Kai sampai mengatakan hal seperti itu? Masalah besar apa yang sebelumnya terjadi?
“Ah,aku punya ide!” Richan mengangkat tangannya keatas,Kai menatapnya.”Bagaimana jika aku membuat lagu sindiran tentang kau untuk Eunhyuk? Agar ia bisa merasa bersalah? Bagaimana menurutmu?”
”Pabo!” Dengan telunjuknya Kai mendorong dahi Richan dengan pelan tanpa di sengaja. Entah darimana perasaan itu berasal? Kai berdehem menyembunyikan agar tindakan yang baru saja di lakukan adalah refleks. “Kau ingin membuat lagu Sindiran? Lalu bagaimana dengan Eunhyuk? Kau ingin membuatkan lagu balasan sindiran,seperti itu?”
“Ah,ye. Aku lupa.” Richan menunduk malu. “Geundae,Kai hasrat seperti apa yang kau rasakan ketika lagumu menang Daesang?” dua jam berlalu. sama seperti sebelumnya,Richan terus menginterograsi Kai dengan Ribuan pertanyaan.
Keduanya,Kai maupun Richan merasakan haus di tenggorokannya. “Kai,obess-si apa yanghh. Ekhem!” terasa kering dan sakit pada tenggorokan Richan.
Kai merasa tersendir dengan deheman itu. Ia lupa bahwa sejak dua jam yang lalu Ia belum memberi richan setetes minumanpun,”Ekhem, kau ingin minum apa? Biar aku ambilkan.” Kai berdiri dari tempatnya.
“Hm,air mineral saja.” Jawab Richan. Kai pergi dan kembali setelah beberapa saat dengan dua gelas air dingin. Kai menaruh keduanya diatas meja,”Kai,kau tidak ke dapur asrama? Kau memiliki dapur di dalam kamarmu?” Tanya Richan penasaran. Jelas saja,sebagai Trainee jika ingin makan dan minum ia harus kelantai dasar dulu.
“Aku sudah hampir satu tahun debut,tentu saja fasilitas yang aku miliki berbeda dengan milikmu. Dan aku juga lima besar di Gaon,Melon dan Hanteo.” Keduanya mengambil gelas dan minum,tenggorokan lega mulai sekarang.
”Jam berapa sekarang?” Gumam Richan,ia menyalakan handphonenya dan menunjukan pukul 21.00 malam,beberapa Trainee pasti sudah pulang. Richan menaruh kembali handphonennya di bawah meja. “Kai,kurasa aku sudah mengetahu banyak hal tentangmu. Aku bisa menulis lagu besok.”
“Mwo?” Kai terkejut,”Kufikir kau akan menulis lagu sekarang.”
“Ini sudah terlalu malam,”Richan menjelaskan,”Geundae,a-apa lukamu sudah cukup…membaik?” Richan bertanya perlahan. Rasa sakit di kulit tubuhnya sudah hamper hilang,tinggal luka saja yang masih membekas.
Kai tersadar,”MEMBAIK? Aku di siram dengan latte yang masih mendidih! Oh,tubuhku benar-benar terasa sakit sampai sekarang. Mungkin saja ini akan menyisakan bekas,bagaimana? Aku tidak bisa memamerkan tubuhku saat album ketigaku nanti!” Kalimat-kalimat itu sengaja di lebihkan agar Richan merasa bersalah.
“Benarkah? Apa masih membekas?” Richan tidak percaya.
“Kau tidak percaya padaku? Kau ingin melihat bekas lukanya?” Kai menantangnya.
“Seharusnya bekasnya tinggal sedikit,hmm…” Richan mendekat dan mendorong tubuh Kai hingga Kai jatuh kebelakang,jarak mereka sangat intim. Tak sadar keduanya saling bertatapan satu sama lain.
“Y-YA! A-apa yang kau lakukan?” Kai di buat kaget oleh gerakan agresif Richan. Tubuhnya seolah kelu di buatnya,ini pertama kalinya Kai di perlakukan seperti ini. Berani sekali Richan itu.
“Kau bilang aku boleh melihatnya.” Jawab Richan dengan santai,Richan membuka sedikit kaos yang di pakai Kai dan memperlihatkan sedikit bagian tubuhnya. Richan menatapnya nanar,”Ternyata separah ini lukanya…”
Dengan sekuat tenaga Kai membalik mendorong Richan sampai ia terjungkal ke belakang,Kai berdiri dan berkacak pinggang.”S-sudah kukatakan sebelumnya luka ini cukup parah. Dan kau tidak tercaya!”
Richan membetulkan posisi tubuhnya duduk dengan tegap,”Kau mengatak sebelumnya lukamu masih terasa sangat sakit,bukan cukup parah!” Kai tidak bisa berkutik sekarang. Richan menaruh sesuatu di atas meja. “Ini,pakailah ini dan lukamu akan membaik dalam satu minggu!” jawabnya jutek,Richan mengambil beberapa peralatannyayang berada di atas meja dan berdiri untuk pergi.
“YA! Kau mau kemana?!” teriaknya.
“Ini sudah malam,aku harus pergi.” Jawabnya tanpa menatap Kai. Richan berjalan dan membuka sedikit pintu,ia menengok ke kanan dan kekiri,tidak ada orang. “Terima kasih untuk minumannya,Gamsahamnida.” Richan membungkukan tubuh dan pergi.
Richan kembali ke kamarnya dan memasukan peralatan yang ia bawa tadi kedal tas. Di lain tempat, Kai merasa telah di bodohi oleh Richan,ia merasa tubuhnya telah ternodai, dan ia tidak habis pikir dengan sikap Richan yang semena-mena.
Kai menghela nafasnya dan mengambil kedua gelas untuk di taruh di tempat cucian kotor, lalu kembali dan mendorong tata meja,tunggu-tunggu…
Kai duduk di dekat meja,ia mengambil sesuatu. Itu Handphone milik Richan yang tertinggal. Kai duduk di sofanya dan mengutak-atik sebentar handphone milik Richan,untungnya Richan tidak memberikan password sehingga mudah bagi Kai untuk mengaksesnya. Kai terjaga sampai tengah malam hanya untuk melihat isi handphone milik orang lain.
*
Semua Trainee sudah berada dalam bus,supir mulai mengemudikan busnya. Richan duduk dengan Eunhyuk di kursi belakang nomor dua,dan Kai duduk dengan Trainee lainnya di kursi dengan lima orang.
Kai memperhatikan gerak-gerik Richan sedari tadi,ia tidak merasakan keraguan,kegundahan atas sejenisnya. Apakah ia belum menyadari bahwa Handphone miliknya tidak ada bersama dirinya?
Semuanya turun dari bus dan ke ruang rehersal masing-masing. Richan duduk seperti biasa,di kursi keyboard sendirian. Sedangkan para Trainee lainnya berlatih bersama-sama. Richan mulai menulis lirik lagu.
Kai melirik kekanan dan kekiri,sepertinya aman. Kai mengetuk pintu dua kali lalu masuk tanpa izin seperti biasanya. Richan langsung berdiri dan membungkukan tubuhnya,”Wah,kau mulai mengerti tentang kode etika Trainee.”
“Kenapa kau berada disini,Kai Sunbaenim?” Richan bertanya,”Tidak baik bagiku jika kau berada bersamaku saat ini,terlebih ketika aku sedang membuat lagu.” Richan hanya mencoba menyelamatkan dirinya. Sebelum terlambat,sebelum mereka tertangkap basah oleh Trainee lain dan muncul berbagai gossip.
“Huhh,” Kai membuangnafasnya. “Kai tidak menyadari sesuatu? Kau tidak merasa kehilangan?” Kai menyelidik.
“Kehilangan?” Richan berfikir sejenak,Ia kemudian mengambil tasnya dan memeriksa sesuatu. “Ah! Handphoneku,aku kehilangan handphoneku.” Akhirnya gadis itu sadar. Lihatlah,betapa bodohnya dirinya.
“Bodoh!” Kai melemparkan Handphone begitu saja,Richan segera menangkapnya dengan nafas terengah. Bayangkan saja,itu Handphone yang baru saja di lempar. “Lain kali kau harus lebih hati-hati.”
“Huhh,kau juga tidak sadar apa yang baru saja kau lempar! Bagaimana jika jatuh? Memang kau mau menggantinya?” Richan menuntut.
“Aku memasukan nomorku di dial call nomor satu. B-beritahu aku jika kau sudah selesai membuat lagumu…” Ucap Kai kemudian membalikan tubuhnya pergi. Richan segera menundukan kepalanya dan kembali pada tugasnya.
*
Kembali seperti malam sebelumnya,Richan pergi ke kamar Kai. Kali ini ia sudah menulis lirik lagunya,jika seusai dengan keinginan Kai,Richan hanya tinggal membuat nadanya.
Richan memberikan hasil kerjanya pada Kai,ia membacanya dengan teliti. Jelas saja,lagu ini adalah senjatanya untuk mengalahkan Eunhyuk,dan juga jika ia menang,dalam satu tahun ia bisa mengeluarkan single pertamanya setelah album debutnya beberapa bulan yang lalu.
“Pada lirik don’t you remember menurutku kurang begitu pas,bagaimana jika di ganti dengan yes,I can remember. Bagaimana?” Kai mengoreksi. Hubungan keduanya cukup membaik,hanya saja terkadang Kai bersifat kekanak-kanakan. Kembali kepada dirinya dingin saat di tempat pelatihannya,dan berubah menjadi sosok hangat jika sudah berada di asrama.
Richan berfikir sebentar,”Menurutku tidak buruk…”
Sentilan ringan akhirnya jatuh pada dahi Richan,”Aku seorang penulis lagu dan penyanyi! Beberapa bulan setelah debut,aku langsung mendapatkan Daesang untuk tahun ini! Tentu saja tidak buruk.” Kai memuji dirinya sendiri,”Seharusnya aku saja yang membuat lagu untuk diriku sendiri.”
Richan berdecak kesal,ia berdiri dan berjalan kearah keyboard tak jauh darinya. “Bantulah aku untuk memindahkan ini,Palli!” Suruhnya dengan sedikit kasar.
“YA! Mengapa kau harus bersusah payah memindahkan? Buat saja iramanya disana!” Kai kembali berkicau.
“Aish! Palliwa! Akan sulit bagiku,bagaimana jika hasilnya jelek? Bagaimanapun itu juga akan mempengaruhi masa depanmu…” Ia mulai beralasan. Kai mau tak mau berdiri,ia membantu Richan  memindahkannya di atas meja. Keduanya duduk kembali.
Satu jam berlalu.
Kembali kepada sosok Richan yang bekerja keras tak kenal henti,waktunya berlalu hanya untuk membuat nada. Richan terus mencoba dan mencocokan dengan lirik yang di buatnya,sesekali ia berfikir bagaimana nada yang harus ia ambil? Sebuah lagu yang mampu untuk mengalahkan yang lainnya,tak boleh ada salah sedikitpun dan harus mendekati kata sempurna.
Kai merasa bosan,ia juga tidak mau membantu musuhnya itu. Itu tugasnya,walaupun masa depan dan harga dirinya berada di lagu itu,Kai berusaha mempercayai gadis di depannya itu. Kai memanjangkan tubuhnya di sofa dengan handphone di tangannya,sementara Richan duduk di lantai berlapis tikar. “Ini sudah jam 8.00 malam,kita harus bangun untuk pelatihan besok.”
“Tidak bisa.aku harus menyelesaikannya setidaknya setengah lagu.” Baru beberapa not balok yang ia tulis,lagi lagi Richan menghapusnya dan menggandi dengan not balok yang lain.
“Kau bisa mengerjakannya di kamarmu,ini cukup berisik di telingaku.” Sebenarnya tidak masalah bagi Kai,ia hanya mencoba untuk mengganggu Richan. Lihat saja,gadis itu terlalu serius pada pekerjaannya,dan Kai sudah bosan sejak satu jam yang lalu.
“Aku baru di rekrut beberapa minggu yang lalu,Taepyeonim belum memberikanku fasilitas pribadi,berbeda denganmu.” Seolah mengabaikan,Richan tetap berfokus pada pekerjaannya.
“Kalau begitu berhenti dan kerjakan esok hari di ruang pelatihan…”Kai menyarankan.
“Resikonya berat,bagaimana jika aku lupa ide-ide untuk esok. Otakku sedang penuh dengan not-not balok di otakku,aku hanya perlu mencobanya satu persatu dan mencocokan yang pas.” Richan berteguh pada dirinya,”dan akan menyenangkan bagiku jika kau tidak menggangguku saat ini.”
Pukul 20.30 malam.

“Hoaaamm,” Kai menguap,”Ini sudah malam. Aku ingin tidur…”
====TBC==== 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar